UJUNG TOMBAK PENGELOLA PERAIRAN DAN KELAUTAN

Hari Nelayan Nasional (6 April 2021)

“UJUNG TOMBAK PENGELOLA PERAIRAN DAN KELAUTAN”

Andi Sigalingging (Staf Departemen Kebijakan Publik KAMMI KOMSAT UNMUL)

Tepat hari ini tertanggal 06 April menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur para nelayan kepada Tuhan atas hasil laut yang mereka dapatkan dan ini menjadi catatan penting bagi masyarakat untuk memperingati Hari Nelayan Nasional. Dulu diera Soeharto tepatnya di masa orde baru resmi Hari Nelayan Nasional ditetapkan setiap tanggal 06 April sejak tahun 1960 guna untuk mengapresiasi jasa-jasa para nelayan. Menurut UUD No 31 Tahun 2004, nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Masyarakat nelayan yang sumber pendapatannya dari perairan merupakan bagian secara menyeluruh dari bangsa ini yang dapat menjadi ujung tombak pemberdayaan sumberdaya disektor perairan dan kelautan dalam meningkatkan pembangunan ekonomi nasional. Peran nelayan sebagai ujung tombak dalam meningkatkan pembangunan tersebut hanya dapat terwujud jika peranannya diberdayakan, diakui, dilindungi, dan ada jaminan kepastian hukum yang berpihak kepada nelayan dimana sumber utama penghidupannya dari perairan dan kelautan. Sangat memprihatinkan kondisi nelayan jika sumber daya di lautan yang sangat luas ini tidak dimanfaatkan dengan baik dan sustainable.

Dengan lautan yang luas (70%) dari daratan semestinya dapat dimanfaatkan untuk menjamin kesejahteraan hidup nelayan dan keluarganya. Sangat di harapkan para nelayan menjadi tumpuan harapan di masa depan terkait ekonomi nasional. Selain itu tantangan alam yang dihadapi nelayan sangat berat (musim), pola kerja homogen yang bergantung hanya pada satu sumber penghasilan, berbagai persoalan lain yang mendera para nelayan dan menjadi persoalan keterpurukan klasik. Kemampuan modal yang lemah, fluktuasi hasil tangkapan, permainan harga jual ikan, dan terbatasnya daya serap industri pengolahan ikan masih terjadi persoalan yang tak pernah terselesaikan. Terbatasnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan hasil tangkapan. Selain dari itu, kekuatan canggih armada tangkap nelayan asing yang menangkap ikan secara ilegal.

Berbicara tentang nelayan selalu identik dengan masyarakat miskin di Indonesia. Salah satu akar kemiskinan masyarakat nelayan adalah keterbatasan mengakses permodalan, keberpihakan sektor perbankan ke sektor perikanan masih dilihat sebagai penuh resiko, dan management keuangan yang tak diperhitungkan. Kebijakan-kebijakan yang tidak pro-poor untuk mengubah nasib nelayan. Bahkan secara politik, nelayan masih sering dijadikan obyek mobilisasi massa untuk kepentingan politik.

Pada tahun 2004 DKP melaporkan bahwa sebanyak 3,91 juta KK atau 16,42 juta jiwa diantara 8.090 desa pesisir di Indonesia tergolong sebagai penduduk miskin. Sampai tahun 2011, Indonesia yang memiliki 76.613 jumlah desa dan dari jumlah tersebut 10.639 desa dikategorikan sebagai desa pesisir, sebagian besar penduduknya hidup dalam garis kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2014, rumah tangga nelayan di Indonesia yang menangkap ikan di perairan umum dan laut sebanyak 964.231 atau sekitar 1,5 % dari rumah tangga di Indonesia. Dari jumlah tersebut, rumah tangga nelayan laut yang tergolong miskin ada 23,79 %. Berbeda dengan kondisi nelayan di Jepang, meskipun mereka secara sosial rendah dan marjinal tetapi secara ekonomi dan politik mereka mendapatkan perhatian dan perhitungan sehingga kebijakan pembangunan banyak yang pro kepada nelayan. Pada umumnya nelayan di Indonesia adalah nelayan kecil dengan permodalan tenaga dan perlengkapan tangkap sederhana serta pendidikan rendah.

Peran tengkulak cukup besar dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan, baik dalam kegiatan produksi, pemasaran, bahkan dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Potensi lestari sumberdaya perikanan tangkap nasional yang besarnya mencapai 6,4 ton pertahun sudah dieksploitasi, apakah hal ini secara otomatis membawa implikasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan, padahal, sekarang tingkat pemanfaatan potensi lestari tersebut sudah mencapai 4,4 juta ton pertahun, sehingga tinggal 2,0 juta ton yang belum dieksploitasi. Jika nelayan di seluruh Indonesia mampu memanagement keuangan maka masyarakat nelayan menjadi salah satu faktor pendorong ekonomi Indonesia menjadi maju.

Apr 6, 2021 - Posted by mulawarman - No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *