“Mengutuk Keras segala bentuk Kejahatan Seksual pada Perempuan”

Pernyataan sikap terhadap kasus kejahatan seksual Ade Gembung

oleh Ainur Basirah Mulya

Baru-baru ini dunia pergerakan “Pembela Hak Perempuan” sedang dihebohkan dengan kasus “Kekerasan seksual” yang melibatkan seorang aktivis sebagai pelakunya. Kasus ini mulai ramai diperbincangkan setelah akun @himapsos_unmul pada 4 April 2020 memposting kronologi kekerasan yang dilakukan oleh Ade Fachrizal Rizky (Ade Gembung).
Dalam kronologi tersebut dipaparkan pengakuan tiga orang penyintas yang mendapatkan perlakuan kekerasan dari Ade Gembung. Perlakuan ini dialami penyintas saat menjalin relasi (pacaran) dengan pelaku. Mulai dari kekerasan verbal, fisik seperti memukul, menendang, mencekik sampai dengan ancaman psikis. Kejam sekali.
Yang membuat orang-orang hampir tidak habis fikir adalah karena pelakunya adalah seorang yang mengaku sebagai aktivis kemanusiaan dan pembela hak-hak perempuan. Pelaku sering terlibat dalam aksi juga diskusi bahkan menjadi pemantik dalam rangka merayakan Internasional Woman’s Day yang baru saja digelar Maret tahun ini. Cukup menjadi pukulan telak dan pengingat bagi kita semua bahwa siapa saja bisa menjadi pelaku dan korban kekerasan seksual.
Kasus semacam ini bukan baru saja terjadi tetapi banyak sekali kasus serupa yang terjadi di luar sana. Data telah mengungkap betapa mirisnya kondisi kekerasan terhadap perempuan saat ini. Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2019 sebanyak 431.471 kasus, jumlah ini meningkat dari kasus sebelumnya yang terdiri dari 421.752 kasus. Kasus kekerasan seksual yang paling menonjol adalah KDRT/RP (ranah personal) sebanyak 75% (11.105). Kasus kekerasan dalam pacaran menduduki 16% atau 1.815 kasus.
Jika kita coba telaah, angka 16% bukanlah angka yang sedikit. Ada 1800-an perempuan yang mengalami penindasan tersebut. Terlepas dari hitung-hitungan statistik, berapapun jumlah korbannya kendati hanya ada satu perempuan, kita tidak boleh mengamini segala bentuk kekerasan di muka bumi ini.
Kita semua tidak boleh tinggal diam melihat angka-angka ini semakin menjadi-jadi. Harus ada langkah konkret yang mengusahakan kasus ini terselesaikan dengan baik. Bukan hanya usaha kuratif dan rehabilitatif, tetapi juga promotif dan preventif. Agar penyakit kekerasan seksual yang telah mendarah daging ini segera terselesaikan secara komprehensif.
Memberikan hukuman secara setimpal terhadap pelaku (sangsi sosial) dan juga fokus kepada korban agar bisa bangkit dari segala keterpurukan fisik dan mental paska kejadian, tidaklah cukup. “Mencegah lebih baik dari pada mengobati”, kalimat bijak ini memanglah benar adanya. Kedua belah pihak harus sama-sama sadar dan berusaha membentengi diri dari kejadian semacam ini.
Sebagai perempuan, kita bisa melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak mengalami kekerasan seksual terkhusus dalam relasi pacaran. Sudah menjadi naluri yang tidak terelakkan bahwa perempuan memiliki sifat perasa dan mudah memberi kepercayaan. Maka dari itu perempuan harus tangguh membentengi diri dan berusaha rasional untuk tidak mencoba memberi kepercayaan pada relasi dengan komitmen yang masih dipertanyakan semisal pacaran.
Saya coba menelaah pola modus kekerasan yang terjadi dalam relasi pacaran yakni dengan membuat perempuan merasa tidak berdaya dan seolah-olah sangat bergantung pada lelaki, mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan ancaman agar sang perempuan saat melawan tidak bisa berkutik banyak. Misalnya saja, telah berhubungan badan (ML). Hal ini menjadi landasan power dari laki-laki untuk memenuhi segala tujuan dan hasratnya. “Kalau kamu macam-macam, ku beberkan ke orang tuamu” kalimat ini menjadi kalimat pamungkas.
Perempuan akan berada pada kondisi yang serba salah karena relasi ini awalnya didasar pada “suka sama suka” sehingga bagi sebagian orang tidak dapat dianggap sebagai kekerasan. Pada poin ini jugalah saya ingin memaparkan bahwa penggunaan kata “kekerasan” masih kurang tepat. Defenisi kekerasan yang masih terkesan ambigu karena pada sesuatu yang dilakukan secara suka sama suka tidak dapat dikatakan kekerasan. Hal ini seolah mendiskreditkan keberadaan tatanan moral dan budaya yang ada di masyarakat bahwa pada dasarnya hubungan semacam itu tidak pantas dilakukan bagi mereka yang bukan suami istri. Maka lebih tepat dikatakan “kejahatan seksual”, hubungan yang dilakukan baik suka sama suka atau salah satunya terpaksa tetaplah menjadi kejahatan seksual karena tidak benar menurut nilai moralitas yang dianut oleh negara ini sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan.
Saya mencoba untuk memaparkan solusi dari kasus kejahatan seksual ini dengan menggunakan sudut pandang Islam. Walau saya paham, sebagian orang akan merasa alergi membaca ini dan bertanya “Mengapa ujung-ujungnya harus dikaitkan dengan agama? Ini persoalan kemanusiaan”. Agama mensyariatkan aturan tentunya dengan tujuan yang mulia. Sebagai masyarakat beragama, sudah seyogianya kita mengembalikan segala persoalan hidup kita pada solusi yang konkret dalam pedoman hidup (kitab suci).
Al-Alquran telah menjelaskan dalam surah Al-isra’ ayat 17 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Juga ada dalam surah An-Nur ayat 30 yang artinya “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka perbuat”.
Dua ayat ini cukup untuk menjawab persolan kejahatan seksual dalam pacaran karena diperintahkan untuk tidak mendekati zina sedang pacaran adalah pintu terjadinya zina. Sehingga Islam tidak memperbolehkan adanya relasi pacaran. Hal ini akan menghindarkan laki-laki dan perempuan dari perbuatan yang keji bersumber dari ketidakmampuan menahan hasrat biologis yang berujung pada tindakan penghakiman seperti memukul, menendang, memaksa berhubungan secara terus-menerus dan sebagainya.
Di ayat kedua, menjadi solusi bagi para lelaki sebagai kamu yang lemah dalam hal pandangan. Diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan agar tidak melakukan perbuatan kejahatan seksual kepada kamu perempuan.
Setelah memaparkan narasi di atas, maka:
1. Kami mengecam segala bentuk kejahatan terhadap perempuan
2. Kami mendukung dan membersamai kawan-kawan lembaga atau komunitas yang mengusut dan menindak lanjuti persoalan kejahatan seksual.Agar tidak ada lagi korban dan memutus rantai kejahatan seksual.
3. Jangan berikan ruang politik kepada setiap pelaku yang melakukan kejahatan seksual.
4. Mendorong terbentuknya solidaritas seluas-luasnya bagi para penyintas lewat aksi massa, kampanye, dan diskusi.
5. Menggencarkan kesadaran bagi perempuan untuk tidak terlibat dalam relasi dengan komitmen yang tidak jelas (pacaran) sebagai usaha menghindarkan diri dari kejahatan seksual.

Tertanda
Kepala Departemen Keperempuanan
KAMMI Komsat Universitas Mulawarman
Ainur Basirah Mulya

Jun 25, 2020 - Posted by mulawarman - No Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *